Artikel Islami

Penyesalan Yang Tak Berguna.

“Atau supaya jangan ada orang berkata ketika melihat adzab, sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentulah aku masuk golongan yang berbuat kebaikan. Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. Az-Zumar: 58-59)

Bila kita mengingat betapa singkatnya jatah hidup yang diberikan Allah SWT kepada kita, mulai dari alam rahim, bayi, anak-anak, remaja, dan seterusnya. Maka betapa sangat rugi jika kita masih terlena dengan gemerlapnya dunia, sementara usia yang terbatas ini terus berjalan tanpa ada kesempatan untuk mengulang kembali. Firman Allah diatas menjelaskan, bahwa diakhirat nanti ada manusia yang baru menyadari kesalahan dan kelalaian mereka setelah mereka melihat adzab dengan mata kepala mereka sendiri.

Ketika itulah mereka menyesal dan memohon kepada Allah SWT agar mereka diberikan kesempatan untuk dihidupkan kembali dan memperbaiki diri. Mereka berkata; “Lau anna karratan faa kunna minal muhsinin = Sekiranya aku mempunyai kesempatan lagi, tentulah aku masuk golongan yang berbuat baik.” Tetapi, Allah SWT dengan tegas mengatakan; “Bala, qad ja’aatka aayaatiy fakazzabta biha wastakbar ta wa kunta minal kaafirin = Tidak, sungguh telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu, kamu mendustakannya, kamu menyombongkan diri, dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” Dalam ayat lain dijelaskan, setelah adzab di depan mata barulah mereka menyesal dan berkata; “Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan.” (QS. Yaasin: 22)

Penyesalan yang tak berguna, sekarang inilah kesempatan yang paling baik untuk beriman dan beramal shaleh. Sebab, jika jiwa sudah berpisah dari dari raga, maka tidak ada lagi kesempatan untuk hidup kembali guna memperbaiki diri. Allah SWT dengan sifat kasih dan sayang-Nya selalu berupaya mengingatkan agar kita sadar bahwa dunia ini fana, dan kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Salah satu bentuk Maha Kasih dan Maha Sayang Allah yang diberitakannya kepada kita hamba-hamba-Nya adalah tentang apa saja yang akan kita alami dikehidupan akhirat. Dengan berita itu, maka kita hendaklah berhati-hati agar tidak terjebak memperturutkan hawa nafsu, mengikuti bujuk rayu syaitan. Firman Allah SWT: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak mengikuti syetan. Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku, inilah jalan yang lurus.” (QS. Yaasin: 60-61)

Meskipun kita selalu berbuat dosa dan maksiat, tetapi Allah SWT tetap sayang kepada kita. Allah SWT panjangkan umur kita, agar kita mempunyai kesempatan. Tetapi kitalah yang zalim terhadap diri sendiri, terlena oleh kehidupan dunia, dan kesempatan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri, bertaubat dan beramal shaleh. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi mereka kesempatan (waktu) sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)

Sesungguhnya segala sikap dan perbuatan kita dalam menjalani kehidupan selalu dalam pengawasan Allah SWT, dan tak satupun luput dari catatan malaikat yang berada disebelah kanan dan kiri kita, yang selalu mendamping dan mengawasi segala perbuatan kita. Tidak ada sistem pengawasan yang lebih canggih dan akurat, selain pengawasan malaikat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Lauh Mahfuzh).” (QS. Yaasin: 12)

Marilah kita manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena jika saatnya tiba tidak ada satupun yang menghalang-halanginya, tidak dapat di mundurkan juga tidak di majukan. Oleh karena umur ini tidak dapat di tambah juga tidak dapat di ulang, maka kesempatan yang sekaligus modal satu-satunya ini hendaklah kita gunakan dengan baik. Yaitu dengan menjalani kehidupan tersebut diatas jalan hidup yang benar. Seperti selalu yang kita pinta “Ihdinas shirathal mustaqiim.”


Wanita Ahli Surga dan Ciri-Cirinya.

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah surga. Didalamnya terdapat bejana-bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan surga. Diantaranya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


Artinya: “(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertaqwa yang didalamnya ada sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh didalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minum dengan air mendidih sehingga memotong-motong ususnya.” (QS. Muhammad: 15)

(more…)


Mencium Syurga Dengan Berzakat.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif?w=590

Kalau kita perhatikan betul-betul keadaan hidup manusia di dunia ini, maka tampaklah dengan jelas, bahwasanya manusia hidup itu, menhajatkan makanan dan minuman. Ini adalah suatu ketentuan yang tak dapat dielakkan lagi, karena kalau tidak makan dan minum, niscaya manusia akan mati kelaparan.

Pada hakikatnya, setiap manusia diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk mencari rezkinya di dunia ini, tetapi perbedaannya adalah sejauh mana orang tersebut diberi kemampuan oleh Allah SWT dalam mencari rezkinya. Ada yang mampu dan ada yang kurang mampu. Maka hendaklah bagi yang mampu untuk membantu yang kurang mampu, dengan cara berzakat, berinfaq, dan bersedekah.

Zakat adalah salah satu bagian dari rukun Islam yang lima, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencari syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya. Dengan tujuan untuk membersihkan dirinya, sehingga harta tersebut menjadi suci, bersih, baik, bahkan tumbuh dan berkembang. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 103;

Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu akan membersihkan diri dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Dilain ayat Allah juga berfirman;

Artinya: “….Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencari keridhaan Allah. Maka (yang berbuat demikian) itulah orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum: 39)

Barang siapa seorang mukmin yang mengabaikan kewajiban ini, padahal dia mampu dan hartanya telah mencapai nisab, berarti sama saja melanggar ketentuan Allah, dan ia akan mendapatkan dosa dan siksa dari Allah, hartanya akan menjadi malapetaka di akhirat, karena hartanya akan menjerumuskan dirinya kelembah api neraka yang amat panas, na’uzu billahi min zalik.

Harta juga dapat menuntut kita memasuki surga dan dapat pula menjerumuskan kita menuju jurang api neraka, tinggal kita saja, bagaimana menggunakan harta itu. Jika kita menginginkan masuk surga dengan harta yang telah dititipkan Allah, amak kita harus menuaikan kewajiban kita yang berkenaan dengan harta itu.

Seseorang juga dapat terjerumus kelembah api neraka, disebabkan oleh hartanya yang telah dititipkan oleh Allah kepadanya. Dengan harta itu, ia selalu berfoya-foya, ia enggan untuk mengeluarkan zakat, apalagi untuk keperluan ummat, menyantuni anak yatim, mengasihi kaum fakir dan miskin, dan lain sebagainya.

Kadang-kadang, ada orang yang mendapatkan hartanya yang banyak itu, dengan memeras kaumfakir miskin, bukan membantunya tetapi justru memerasnya. Orang semacam inilah yang nantinya di akhirat akan menyesal, dikarenakan ia tidak memanfaatkan hartanya itu untuk kepentingan di jalan Allah, mematuhi hukum Allah dengan menggunakan harta itu dengan baik. Dengan demikian harta itu akan menyeretnya memasuki api neraka, na’uzu billahi min zalik. Allah SWT berfirman;

Artinya: “….Celakalah orang-orang musyrik (orang-orang yang mempersekutukan Allah) (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Fushshilat: 6-7)

Adapun persyaratan harta yang wajib dizakatkan itu, antara lain yang pertama adalah al-milk at-tam yang berarti harta itu dikuasai secara penuh dib dizakatkan itu, antara lain yang pertama adalah an dimiliki secara sah, yang didapat dari usaha, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan, diambil manfaatnya, atau kemudian disimpan. Tetapi di luar itu seperti hasil korupsi, kolusi, suap, atau perbuatan tercela lainnya, tidak sah dan tidak akan diterima zakatnya. Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda;

“Bahwa Allah SWT tidak akan menerima zakat/sedekah dari hasil yang ghulul (didapatkan dengan cara yang bathil)

Yang kedua adalah an-namaa adalah harta yang berkembang jika diusahakan atau memiliki potensi untuk berkembang. Misalnya harta perdagangan, peternakan, pertanian, deposito mudhorobah, usaha bersama, obligasi dan lain sebagainya.

Yang ketiga adalah telah mencapai nisab yang berarti telah mencapai ukuran tertentu yang telah ditetapkan Allah. Sebagai contoh, untuk hasil pertanian yang telah mencapai jumlah 653 kg, emas atau perak senilai 85 gram perdagangan yang telah mencapai nilai 85 gram emas, peternakan sapi yang telah mencapai 30 ekor, dan lain sebagainya.

Yang keempat adalah telah melebihi kebuuhan pokok, yang berarti kebutuhan minimal yang dibutuhkan seseorang dan keluarganya yang menjadi tanggungannya untuk kelangsungan hidupnya.

Yang kelima adalah telah mencapai satu tahun, yang berarti apabila harta itu telah mncapai satu tahundan telah mencapai nisabnya, maka wajib dikeluarkan zakatnya. akan tetapi, untuk tanaman tidak diisyaratkan setahun dimiliki tetapi dikeluarkan zakatnya pada saat panen. Allah SWT berfirman dalam surat Al-An’am ayat 141;

Artinya: “Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin) dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Infak berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu, termasuk ke dalam pengertian ini infaq yang dikeluarkan orang-orang kafir untuk kepentingan agamanya. Allah berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 36;

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi orang dari jalan Allah….”

Sedangkan menurut termonologi syari’at, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapat untuk sesuatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Jika zakat ada nisabnya, maka infaq tidak mengenal nisab. Infaq dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, baik disaat lapang maupun sempit. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 134;

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit….”

Jika zakat diberikan kepada mustahik tertentu sebagaimana telah khatib sebutkan sebelumnya, maka infaq boleh diberikan pada siapapun juga, baik itu kepada orang tua, anak yatim dan lain sebagainya, termasuk uang yang jema’ah masukkan ke dalam kotak amal masjid. Allah berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 215;

Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat. anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang sedang dalam perjalanan….”

Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berati benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Maka, menurut terminologi syari’at, pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuannya. Hanya saja infaq berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat non materil. Ada sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami istri, dan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah.

Perlu diketahui bahwa, sering kali kata-kata sedekah dipergunakan dalam Al-Qur’an, tapi maksud sesungguhnya adalah zakat, sebagai contoh firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 60 dan 103. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah jika seseorang telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan sekali untuk berinfaq ataupun bersedekah karena berinfaq adalah ciri utama orang yang bertaqwa sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 3;

Artinya; “….Petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Islam mendidik ummatnya untuk berlaku sosial, tidak mementingkan dirinya, karena kita tidak dapat hidup sendirian tetapi saling memerlukan antara satu sama lainnya. Kita diberikan harta oleh Allah, maka kita gunakan harta yang diberikan oleh Allah itu menurut aturan yang telah ditentukan oleh-Nya.

Bagi kita tidak mampu, artinya tidak mempunyai harta yang lebih maka di akhirat nanti urusan kita akan menjadi lebih mudah. Oleh karena itu, kita harus ingat bahwa, kita hidup di dunia ini hanya sebentar. Harta hanyalah cobaan yang diberikan kepada kita, untuk menguji apakah setelah kita diberikan harta yang banyak, tetap beriman kepada-Nya! atau malah menjadi manusia kufur dan ingkar terhadap nikmat-Nya. Oleh karena itu, kesadaran diri itu sangatlah penting, kita harus sadar bahwa kita ummat manusia yang dilahirkan di dunia ini untuk diseleksi mana orang yang pantas untuk mendapatkan surga dan mana orang yang pantas mendapatkan neraka. Dan semuanya itu diserahkan kepada kita untuk memilihnya, memilih surga dengan segala kenikmatannya yang ada di dalamnya, atau memilih neraka dengan segala siksa dan penderitaan yang ada di dalamnya.

Jika kita menginginkan surga dan seluruh kenikmatan yang ada di dalamnya, maka kita harus berupaya untuk mencapainya, dengan apa? ya dengan mentaatinya melaksanakan apa yang telah dijelaskan oleh Allah maka perbuatan yang akan mendorong kita masuk surga, itu yang kita kerjakan, dan perbuatan apa saja yang dapat menjerumuskan kita menuju lembah api neraka, maka kita jauhi dan kita tinggalkan.

Saya rasa tidak ada orang yang menginginkan untuk masuk jurang api neraka sebagai tempat tinggal kita di akhirat nanti. Tetapi sayang, ia tidak mau menghindari perbuatan-perbuatan yang mendorong untuk masuk ke dalamnya, yang di antaranya adalah orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Oleh sebab itu mari kita menginstrospeksi diri. Barang siapa yang mampu, bersegeralah untuk mengeluarkan zakat, jadilah orang yang gemar membantu sesamanya, untuk memperoleh keridhaan-Nya dan bukan untuk kepentingan duniawi yang hanya sementara.

Mudah-mudahan, Allah dengan segala rahmat-Nya menanamkan dalam hati kita, agar kita selalu ingin mengeluarkan zakat, infaq, sedekah, dalam perjalanan hidup kita. amiin ya Rabbal’alamiin.

Sumber:
Al-Tazkiyah

Media Dakwah Menuju Suci Harta & Jiwa

BADAN AMIL ZAKAT PROVINSI SUMATERA SELATAN


Nabi Muhammad SAW Model Yang Ideal.

http://iwandj.files.wordpress.com/2008/11/bismilah2-1.gif?w=590

Oleh: Masagus A Fauzan SQ S.Sos.I
Pengurus Yayasan Kiai Marogan

Sosok Nabi Muhammad sangat gamblang dalam sorotan sejarah. Tidak ada bagian hidupnya yang remang-remang sebagaiamana Nabi terdahulu atau tokoh dunia lainnya. Banyak orang tertarik pada ajaran beliau karena pribadinya yang menarik. Tutur katanya sulit ditolak akal sehat dan hati yang jujur. Ia hanya berkata yang benar dan bila berjanji ia selalu memenuhinya. Dan ia memuji orang jujur dan yang memenuhi janji.

bahkan di mata Quraisy sendiri, sejak remaja Nabi Muhammad SAW sudah mereka kenal sebagai sosok remaja Al-Amin (jujur, dapat dipercaya). Tatkala pembesar Quraisy akan memasang Hajarul Aswad ditempatnya terjadi pertengkaran untuk menentukan klan mana yang akan mendapatkan kehormatan memindahkannya.

Akhirnya mereka sepakat menyerahkan keputusan itu kepada Muhammad karena mereka telah mengenalnya sebagai seorang yang bijak dan adil. Muhammad lalu mengambil kain, meletakkan batu itu di atasnya dan mengajak semua anggota klan memegang pinggir kain itu, mengangkatnya bersama-sama ke pojok sampai ke “lobang” yang disiapkan. Setelah itu ia memegang batu itu dan memasukkan ketempatnya.

Tatkala ia menerima wahyu pada umur 40 tahun, wahyu pertama yang diturunkan adalah perintah Allah agar manusia membaca dan menulis. Di bagian lain, ia membaca ayat Al-Qur’an yang menegur manusia agar berpikir, berkontemplasi dan mengamati alam ciptaan-Nya. Kemudian Allah SWT mengagungkan manusia sebagai makhluk yang berakal dan menegurnya dengan kata-kata “Hai pemilik akal..” Di bagian lain Allah mengatakan bahwa hanya orang yang berilmulah yang benar-benar bertaqwa kepada-Nya.

Rasulullah SAW juga menganjurkan ummatnya agar mengejar ilmu walau harus menyusul sampai ke negeri China sekalipun. Dalam kehidupan rumah tangga cara hidupnya bersahaja. Beliau membantu pekerjaan rumah, menisik baju, mendandani sandal, menimba air, mencuci pakaian atau memerah susu kambing sembari tetap menjadi pengembala. Pribadi beliau mampu menaklukkan hati kawan dengan cinta kasih dan kelembutan budi serta menggentarkan lawan karena semangat dan strategi tempurnya yang sangat tinggi dan piawai.

Selain seorang Rasul, beliau adalah model yang ideal bagi siapa saja, termasuk orang yang ingi membina persahabatan, pendidik atau belajar.

Menurut M Quraish Shihab, Nabi SAW dipanggil dengan sapaan sahabat di dalam surat An-Najm ayat 2, untuk mengingatkan kepada bahwa Nabi SAW adalah sahabat kita yang sejati. Yang disaat akhir sakaratul mautnya masih memikirkan nasib ummatnya dengan bisikkan; ummati (ummatku) ummati (ummatku). Kendati mereka baru lahir di dunia ribuan tahun sesudahnya.

Salah satu bagian dari misi rahmat beliau adalah menjadi sahabat yang paling baik bagi setiap orang. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang sangat melayani hak-hak sahabatnya dengan perkataan dan perbuatan. Beliau menjaga mulutnya dari perkataan yang menyakitkan sahabatnya, beliau menjaga rahasia parasahabat, beliau tidak memanggil para sahabat dengan panggilan yang tidak mereka sukai, beliau membantu meringankan beban sahabatnya dan sebagainya.

Rasulullah SAW di utus sebagai rahmat bagi semesta alam. Dari diri beliau memancar kasih sayang yang akan dirasakan oleh semua, baik manusia, hewan, tumbuhan maupun semesta alam, baik yang mengenal beliau langsung maupun tidak langsung, baik pada zaman ketika beliau hidup maupun zaman sekarang dan hingga akhir zaman.

Melalui ayat-ayat Al-Qur’an beliau menyampaikan bahwa berbagai suku dan bangsa, lidah dan warna kulit diciptakan untuk saling kenal dan merupakan agen persahabatan. Yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Di satu kesempatan dalam perjalanan haji beliau berkata orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab. Ummat manusia adalah ummat yang satu.

Suku-uku yang saling membunuh selama ribuan tahun telah bergabung dalam agama perdamaian, keselamatan dan cinta kasih. Dengan di dahului Al-Qur’an yang dibawanya, ditulislah ratusan ribu buku dalam segala bidang ilmu di tengah bangsa yang selama ribuan tahun tidak pernah menulis dan membaca sebuah buku apapun.

Sangatlah pantas kalau Michael H Hart, seorang penulis biografi ternama asal Amerika menulis sebuah buku “The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in Histori/Seratus Tokoh Dunia yang Paling berpengaruh.” Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW dalam urutan pertama. Diantara argumen yang di kemukakan Muhammad terlahir dan tumbuh sebagai yatim piatu dan miskin.

Namun dia berhasil mewariskan kekuatan politil, peradaban dan mampu mengubah padang pasir tandus dengan tradisi sosialnya yang rusak menjadi pusat dan sumber pencerahan dunia yang gerakan serta pengikutnya masih terus berkembang sampai sekarang.

Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW pribadi yang paling cemerlang dalam sejarah bangsa Arab. Dalam dirinya terhimpun berbagai sifat yang tidak dimiliki oleh siapapun, baik pribadi sebagai seorang pembawa risalah kebenaran, panglima perang, pimpinan negara, ekonom terkemuka, orator ulung, guru favorit bagi sahabatnya atau murid pembelajar dari Dzat Yang Maha Alim, berilmu.

Sriwijaya Post/Opini


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.